Tuesday, November 29, 2011

After me, baby '1

Kami hanya saling menatap, hanya wajahnya yang bisa mengatasi sesaknya rindu di busung dada , meski masing-masing sibuk dengan dunia mayanya, dan sesekali saling menatap kamera,  bahwa mata kami mengatakan saling rindu wajah ini, wajah riang ini, wajah muram ini, tertawa seperti ini, kapan kita bertemu lagi? 
Tolong beri waktu untuk obati rasa rindu ini, semalam saja, seperti ini saja, meski kami jauh, tapi ini sangat nyaman.
Aku tak mau habiskan malam, aku ingin malam ini tidak berakhir, aku butuh orang ini, temani aku malam ini saja, aku tidak mau sendiri lagi. 
Kemudian waktu melepas bulir-bulir detiknya, menitnya, dan jamnya. Tak pernah terasa habis ia lewat begitu cepatnya. 
"Baby, how much of you is real?"

Strawberry Man

"hei strawberry man? how are you today?"
make me happier than yesterday, bring me to your sweet and sour.. even just one day, and the Good Lord will take you and I away...
 

know me?me know?

Menurutku mungkin memang semua orang adalah 'seniman' , yang wujud dan karyanya berbeda-beda. seperti perkataan Kugy dalam cerita perahu kertasnya, 'berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi'. Mungkin Kugy, Keenan dan saya sama. Mencoba berputar menjadi sesuatu yang orang mau, yang bukan kita, demi menjadi diri kita lagi. Kugy mungkin ingin menjadi penulis dongeng, tetapi itu tidak akan menjamin hidupnya, dan selain anak-anak siapa lagi yang suka dongeng zaman sekarang ini? tapi beruntungnya dia, dia masuk Sastra Indonesia, yang demi meluruskan cita-citanya jadi Tukang Dongeng, hanya terhambat saja karena realitas. Keenan juga, dia lebih bisa dibilang Pelukis, dan jiwanya sudah jatuh disitu, tapi orangtuanya tak setuju jika ia hanya menjadi seniman lukis, yang masa depannya tidak pasti dan ia terpaksa masuk Ekonomi, demi keiinginan Ayahnya. Tak lebih juga dari saya, meskipun saya baru memulai dan saya tak tahu passion saya diarah yang mana? Saya harus mengikuti orangtua saya, dari dulu sampai sekarang saya hanya menikmati penjara ini saja, membuatnya senyaman mungkin, dan menghilangkan jenuhnya. Ini tahun ke empat saya dibidang Kuliner, dan saya merasa tidak ada apa-apanya, dibanding siapapun. Apa ini bukan passion saya? bukan bakat saya? dan bukan jiwa yang Keenan miliki kepada seni lukis? Saya ini samar, semu, dan maya. Saya sendiripun tak tahu apa yang saya punya, what good at? Saya hanya menjalani apapun itu yang ada untuk saya, dan space saya. Meskipun akhirnya saya belum menemukan diri saya, dan saya hanya mencoba mencintai dunia masak-memasak, tapi disatu sisi saya suka membaca dan berpikir rumit. Saya suka fiksi, saya suka filsafat, saya suka buku, saya suka psikology, saya suka budaya, apakah ada hubungan dengan dunia yang saya geluti saat ini? dengan berbagai potongan sayuran, literan kaldu, ratusan guest, dan how to be a great server? Saya mungkin tersesat, tapi saya tidak mau tersesat tanpa berguna. Andai saja ada orang yang bisa mengarahkan dan membaca saya, jujur sayapun tidak bisa tahu saya seperti apa. Saya mungkin butuh psikology, atau advicer? Entahlah saya tidak tahu sampai sekarang saya berada dijiwa siapa dan apa?
Intinya semua manusia berkarya, Dijalan-Nya. Dan saya belum menemukan seni dalam diri saya, jadi kapan saya bisa berkarya seperti mereka???????????