saya memanggilnya dengan sebutan papah sejak 19 tahun lalu sampai sekarang, sosoknya yang tampan, tinggi, berkulit putih, hidung mancung, rambutnya yang hitam dan sikapnya yang dingin membuat siapapun yang baru mengenalnya merasa bahwa dia sosok yang introvert dan cool. saya adalah sosok penerus beliau, sikap introvert, cuek, pemikir, simple, turun kepada saya, anak pertamanya.
beliau sangat-sangat menginginkan seorang anak lelaki, tapi apa daya saat itu saya yang menjadi anak pertmanya. dibalik passionnya menginginkan anak laki-laki, saya menjadi objeknya, tiba-tiba saja saya terkena alergi bulu atau debu pada saat umur 1tahun. semua boneka dan baju yang berbulu dimusnahkan dari hadapan saya, dan trengg berubah jadi mainan laki-laki yang serba plastic. baju-baju saya bergambarkan power ranger, satria baja hitam, dan saya selalu memakai topi, sama seperti ayah saya.
di umur 5 tahun, saya sudah biasa main sepak bola, bulutangkis, dan favorit saya waktu itu bermain layang-layang bersama beliau. saya tidak bisa menerbangkannya, tapi beliau benar-benar mengajarkannya, sampai akhirnya saya terjun di komunitas pengejar layang-layang di komplek saya, haha. ketika ada layang-layang yang kalah adu, saya dan teman-teman mngejar layang-layang itu sambil teriak " woiii.. JUNTAIII!!!" awesome banget.
saya berubah menjadi sosok yang sedikit kasar, dan tomboy. *dad, that was because of you ya!
saya tidak mau berteman dengan perempuan, karena bentar-bentar nangis. teman saya saat itu hanya almarhum au(*God blessed you), adiknya ai dan satu lagi tetangga saya chandra.
ketika saya mulai beranjak remaja, saya melihat ada sisi lain didiri saya, saya perempuan tidak pada semestinya. dandanan yang serba cuek, dan berantakan dan papah saya tidak berkomentar apa-apa. ketika saya mulai tahu yang namanya pacaran, saya mengerti kenapa penampilan itu nomor satu, katanya sih malu sama pacar, haha.. tapi seiring berjalannya waktu saya harus tinggalkan penampilan yang berantakan itu menjadi sedikit lebih baik dimasa SMA. *ok dad, i'm not a girl, not a woman yet
Dimasa ini, papah saya berubah saya menjadi sangat pengertian. ketika saya beranjak dewasa, dan saya punya pekerjaan yang bisa menghasilkan lelah dan uang. saya lebih dihargai oleh beliau. Saya selalu berbagi cerita suka dan duka, ketika saya bekerja dan beliau selalu membuat nyaman dan diperhatikan ketika ia memberi banyak masukan dan nasihat yang benar-benar sangat membangun. suatu hari ketika saya ingin membeli tas, dan meminta uang pada ibu saya, ia nyeletuk sengan senyum nakalnya "mau beli tas yang gambar-gambar tengkorak lagi neng?" , spontan saya tertawa, dan ia senyum-senyum sendiri. saya ingat waktu SMP semua aksesoris saya serba tengkorak, haha, i known dad, you've worried about it *pelukk
ketika saya melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi, beliau sangat ingin saya menjadi mahasiswa pariwisata, sesuai major yang saya ambil sejak SMA. alhasil ia membuat proposal untuk saya menjadi anak asuh aatasanya. disatu sisi saya sedih, karena ia meredam-redam rasa malunya untuk saya, untuk saya bisa kuliah dengan menjadikan saya anak asuh oranglain. tapi saya bangga sama papah.
semester 1 IP saya tinggi 3,85 dan ia sangat bangga dengan hal itu, dan IPK saya ditahun pertama 3,75. semester 3 saya mendapat beasiswa bantuan belajar dari kampus, dan betapa senansegnya beliau mendegar ini semua. saya juga merasa bahagia, bisa buat papah tersenyum.
disini ditempat ini, saya masih terus berjuang untuk papah, maafkan saya pah jika saya masih punya rasa malas, dan kurang bersyukur untuk semua ini. saya masih punya janji, untuk bahagiain beliau. sekarang saya kangen sama beliau, sama senyum dan caranya tertawanya, tahu kan kalau orang yang dingin jarang senyum dan tertawa? tapi ketika melihatnya senyum sekali saja, rasanya senang tiada tara.
i love you dad

No comments:
Post a Comment